Masa-masa
yang paling bahagia adalah masa-masa kecil alias masih bocah. Kita gak perlu
pusing-pusing mikiran beban apa-apa. Pokoknya masabodo dengan apa yang
dikerjakan, gak peduli bener kek, salah kek, yang penting senang. Apa lagi masa
kecil sekarang itu lebih asyik daripada masa kecil dulu. Karena masa kecil dulu
itu mengajarkan ke-freak-an, secara enggak langsung mendidik agar seperti
zombie.
Dan
pasti tidak terbayangkan bila pada tengah malam, anak-anak kecil dari Sabang
sampai Merauke bersatu dan berbondong-bondong ke atas bukit, lalu mereka
serempak melolong layaknya srigala. Kemudian mereka mendatangi berbagai
pemukiman penduduk di Indonesia dan menghisap satu persatu darah orang-orang. Pasti
kisah ini lebih seram ketimbang nonton film favoritnya adik ku, Shoun The Ship.
Bisa dibuktikan, kalau masa kecil sekarang lebih asyik
daripada masa kecil dulu. Kalau masa kecil sekarang, kebanyakan sudah pada
kenal dengan gaya-gaya yang up todate alias yang lagi ngetren, pokoknya fashionable
lah. Sampai-sampai gaya artis yang sekarang lagi populer nih, besoknya sudah
banyak ditiru sama anak-anak kecil masa sekarang, malah sampai keluar istilah
pasaran. Pokoknya jauh bangket sama gaya-gaya kecil masa dulu. Coba bandingin sama
gaya kecil dulu, sudah ingusan, dekil, bau, kukunya pada item pula, kan bener
kalau kaya zombie, kelakuannya juga aneh-aneh, udah gitu banyak kutunya di
kepala lagi. Memang tidak bisa dibanggakan.
Yang lebih keren lagi masa kecil sekarang dengerinnya
lagu-lagu yang up todate, mereka pada hafal lagu-lagu seperti Samsh, 7 Icons,
hingga mancanegara seperti Bruno Mars, Kety Perry, dan Justen Biber. Tidak
diragukan lagi, masa kecil sekarang lebih cerdas dalam memilah sesuatu yang
mereka suka, yang sekiranya oldist gitu mah sudah tak terpakai. Beda banget
sama masa kecil dulu.
Kalau
menurut aku sendiri, lagu-lagu masa kecil dulu tuh gak ngedidik banget loh. Malah
mendidik kita supaya bertingkah laku layaknya mayat hidup (zombie maksudnya
mah). Ngerikan?! Gak paercaya?? Coba simak dengan seksama survey dibawah ini.
”Pada hari minggu ku turut ayah ke kota,” bisa dipahamin
kan. Masa kecil-kecil disuruh main ke kota!! ngapain jauh-jauh main ke kota
coba?? Malahan yang ada bikin kahawatir orang tuanya, kan lebih baik bantuin orang
tua kek di rumah. Nyapu, ngepel, memasak, atau pun berkebun. Jelas-jelas lagu
itu ngajarin anak kecil hidup berpoya-poya. Mending kalau hanya poya-poya, kalau lari-lari sambil bawa martil masuk ke
tempat-tempat perbelanjaan lalu mengumpulkan penduduk kota dan digiring ke
alun-alun, setelah itu pada dihisep darahnya, siapa yang mau tanggung jawab
sob?!
Terus ada lagi lagu burung kakak tua, dibait
kedua akhirnya yang bunyinya “nenek sudah tua giginya tinggal dua,” lah itu
lagi. Jelas banget itu lagu ngajarin kita ngejek nenek-nenek. Semuanya juga sudah
pada tau, kalau sudah nenek-nenek pasti giginya berkurang. Coba saja kalau
nenek kalian diejek seperti itu, pasti gak terima iya gak. Apalagi kalau di
gigit, masukin petasan kedalam hidungnya, diklitik-klitikin, sampai
dijambak-jambak bulu keteknya. Siapa coba yang mau terima?!
Nah, lagu yang satu ini pasti gak asing lagi buat kalian,
lagu balon ku. “Balon ku ada lima ku pegang erat-erat.” Sudah jelaskan, di bait
tersebut mengajarkan anak-anak serakah, masa lima balon sekaligus dipegang
sendirian pake acara erat-erat lagi. Bukannya kita hidup diajarkan supaya
saling berbagi?? Nyatakan, kalau pada bait itu mengajarkan anak-anak
berperilaku tidak terpuji. Dan sesungguhnya perbuatan yang tidak terpuji akan
mengakibatkan kita dimusuhi teman-teman.
Selanjutnya di
bait yang bunyinya, “meletus balaon hijau, dorr!!! hatiku sangat kacau.”
Apa-apaan coba, masa kecil-kecil sudah diajarkan galau. Lagian aku sendiri
enggak kacau kok kalau tau ada balon meletus, gak usah lebay-lebay teuing lah,
harga balonkan murah, paling berapa sih?? Gak sampai jual empang kok cuman buat
beli balon. Terkecuali buat beli apartemen atau mau naik haji. Mungkin wajar
kalau jual empang dulu, karena membutuhkan uang yang tidak sedikit.
Jadi parcayakan, kalau memang masa kecil dulu itu mendoktrin
anak-anak agar melakukan sesuatu yang terkesan aneh dan menjengkelkan, dan
intinya jauh lebih katro’ dari pada masa kecil anak sekarang.
Babadan, 03
Januari 2012







0 komentar:
Posting Komentar