Sabtu, 02 Juni 2012

Duta Zombie Indonesia untuk Dunia




Masa-masa yang paling bahagia adalah masa-masa kecil alias masih bocah. Kita gak perlu pusing-pusing mikiran beban apa-apa. Pokoknya masabodo dengan apa yang dikerjakan, gak peduli bener kek, salah kek, yang penting senang. Apa lagi masa kecil sekarang itu lebih asyik daripada masa kecil dulu. Karena masa kecil dulu itu mengajarkan ke-freak-an, secara enggak langsung mendidik agar seperti zombie. 


Dan pasti tidak terbayangkan bila pada tengah malam, anak-anak kecil dari Sabang sampai Merauke bersatu dan berbondong-bondong ke atas bukit, lalu mereka serempak melolong layaknya srigala. Kemudian mereka mendatangi berbagai pemukiman penduduk di Indonesia dan menghisap satu persatu darah orang-orang. Pasti kisah ini lebih seram ketimbang nonton film favoritnya adik ku, Shoun The Ship.
            Bisa dibuktikan, kalau masa kecil sekarang lebih asyik daripada masa kecil dulu. Kalau masa kecil sekarang, kebanyakan sudah pada kenal dengan gaya-gaya yang up todate alias yang lagi ngetren, pokoknya fashionable lah. Sampai-sampai gaya artis yang sekarang lagi populer nih, besoknya sudah banyak ditiru sama anak-anak kecil masa sekarang, malah sampai keluar istilah pasaran. Pokoknya jauh bangket sama gaya-gaya kecil masa dulu. Coba bandingin sama gaya kecil dulu, sudah ingusan, dekil, bau, kukunya pada item pula, kan bener kalau kaya zombie, kelakuannya juga aneh-aneh, udah gitu banyak kutunya di kepala lagi. Memang tidak bisa dibanggakan.
            Yang lebih keren lagi masa kecil sekarang dengerinnya lagu-lagu yang up todate, mereka pada hafal lagu-lagu seperti Samsh, 7 Icons, hingga mancanegara seperti Bruno Mars, Kety Perry, dan Justen Biber. Tidak diragukan lagi, masa kecil sekarang lebih cerdas dalam memilah sesuatu yang mereka suka, yang sekiranya oldist gitu mah sudah tak terpakai. Beda banget sama masa kecil dulu.
Kalau menurut aku sendiri, lagu-lagu masa kecil dulu tuh gak ngedidik banget loh. Malah mendidik kita supaya bertingkah laku layaknya mayat hidup (zombie maksudnya mah). Ngerikan?! Gak paercaya?? Coba simak dengan seksama survey dibawah ini.
            ”Pada hari minggu ku turut ayah ke kota,” bisa dipahamin kan. Masa kecil-kecil disuruh main ke kota!! ngapain jauh-jauh main ke kota coba?? Malahan yang ada bikin kahawatir orang tuanya, kan lebih baik bantuin orang tua kek di rumah. Nyapu, ngepel, memasak, atau pun berkebun. Jelas-jelas lagu itu ngajarin anak kecil hidup berpoya-poya. Mending kalau hanya poya-poya,  kalau lari-lari sambil bawa martil masuk ke tempat-tempat perbelanjaan lalu mengumpulkan penduduk kota dan digiring ke alun-alun, setelah itu pada dihisep darahnya, siapa yang mau tanggung jawab sob?!
 Terus ada lagi lagu burung kakak tua, dibait kedua akhirnya yang bunyinya “nenek sudah tua giginya tinggal dua,” lah itu lagi. Jelas banget itu lagu ngajarin kita ngejek nenek-nenek. Semuanya juga sudah pada tau, kalau sudah nenek-nenek pasti giginya berkurang. Coba saja kalau nenek kalian diejek seperti itu, pasti gak terima iya gak. Apalagi kalau di gigit, masukin petasan kedalam hidungnya, diklitik-klitikin, sampai dijambak-jambak bulu keteknya. Siapa coba yang mau terima?!
            Nah, lagu yang satu ini pasti gak asing lagi buat kalian, lagu balon ku. “Balon ku ada lima ku pegang erat-erat.” Sudah jelaskan, di bait tersebut mengajarkan anak-anak serakah, masa lima balon sekaligus dipegang sendirian pake acara erat-erat lagi. Bukannya kita hidup diajarkan supaya saling berbagi?? Nyatakan, kalau pada bait itu mengajarkan anak-anak berperilaku tidak terpuji. Dan sesungguhnya perbuatan yang tidak terpuji akan mengakibatkan kita dimusuhi teman-teman.
             Selanjutnya di bait yang bunyinya, “meletus balaon hijau, dorr!!! hatiku sangat kacau.” Apa-apaan coba, masa kecil-kecil sudah diajarkan galau. Lagian aku sendiri enggak kacau kok kalau tau ada balon meletus, gak usah lebay-lebay teuing lah, harga balonkan murah, paling berapa sih?? Gak sampai jual empang kok cuman buat beli balon. Terkecuali buat beli apartemen atau mau naik haji. Mungkin wajar kalau jual empang dulu, karena membutuhkan uang yang tidak sedikit.
            Jadi parcayakan, kalau memang masa kecil dulu itu mendoktrin anak-anak agar melakukan sesuatu yang terkesan aneh dan menjengkelkan, dan intinya jauh lebih katro’ dari pada masa kecil anak sekarang.
Babadan, 03 Januari 2012

0 komentar:

Posting Komentar